Nama   : Hidayati

NRP    : B04100080

Laskar : 23

Cerita inspirasi orang lain

Assallamuallaikum Wr. Wb. Saya akan menceritakan pengalaman hidup saya tentang teman dekat saya pada saat saya masih duduk di sekolah dasar. Dia sangat menginspirasi saya dan membuat saya merasa bersyukur dan bersemangat untuk sekolah. Teman saya laki-laki dan hidup di keluarga yang kurang mampu. Untuk bersekolah saja dia mendapat bantuan dari donatur sekolah. Meskipun begitu dia tetap mempunyai semangat yang tinggi untuk bersekolah.

Dia memang laki-laki tapi hatinya seperti perempuan. Dia sering menangis apabila menceritakan tentang keluarganya kepada saya. Ibu kandungnya sudah meninggal dan bapaknya menikah lagi. Jadi dia tinggal bersama ibu tiri. Saya pikir, cerita ibu tiri yang jahat itu hanya sebuah cerita. Tidak terjadi di dunia nyata. Namun, saat dia menceritakan bahwa dia disiksa oleh ibu tirinya saya menjadi takut sendiri dan berharap saya tidak pernah punya ibu atau bapak tiri. Kebetulan bapaknya bekerja sebagai pekerja borongan jadi kerjanya tidak tentu dan kerjanya itu di luar kota sehingga bapaknya jarang pulang ke rumah. Saat bapaknya tidak ada di rumah, ibu tirinya menyiksa dia dengan berbagai macam cara. Dia disuruh mencuci piring dan baju, mengepel, menyapu, dan pekerjaan lainnya yang tidak seharusnya diberikan kepada anak seusia dia. Jika dia mengerjakan pekerjaan rumahnya tidak benar atau ibu tirinya merasa tidak puas dengan hasil kerjanya. Maka, dia akan dipukul dan ditampar oleh ibunya. Apabila bapaknya pulang, dia diperlakukan sebagaimana layaknya anak emas. Uang yang diberikan bapaknya untuk dia bersekolah malah dihabiskan oleh ibu tirinya. Karena itu dia selalu mendapatkan bantuan donator. Bukan hanya penderitaan di keluarga yang dia dapatkan. Tapi di dalam pergaulan dengan teman-teman dia juga dicemooh. Menurut saya mungkin karena pengaruh siksaan dari ibu tirinya dia menjadi seperti perempuan. Bertingkah laku seperti perempuan dan bermain juga dengan perempuan yaitu saya salah satunya. Di kalangan teman laki-laki banyak yang mengejek dan tidak mau bermain dengannya.   Mereka selalu bilang bahwa teman saya itu banci. Teman-teman perempuan juga akhirnya menjauhi dia. Maksud mereka baik, yaitu karena mereka takut apabila teman-teman perempuan saya tetap bermain dengannya akan membuat dia menjadi homo. Semua menjauhinya kecuali saya. Karena saya tahu, bukan dia yang mau untuk berteman dengan perempuan atau bertingkah laku seperti banci. Tapi keadaan yang memaksanya seperti itu. Sampai-sampai dia dipanggil oleh wali kelas karena masalahnya dan sikapnya yang sangat seperti perempuan.

Dengan kemauan dan semangat yang tinggi untuk terus bersekolah, walau dalam keadaan seperti itu dia menjalani hidup dengan biasa saja. Seperti tidak ada masalah dalam hidupnya. Ya, meskipun terkadang dia mencurahkan isi hatinya kepada saya sambil menangis. Saya kagum dengan keteguhan hati, semangat, dan kesabarannya. Jika saya seperti dia, mungkin saya tidak sekuat itu. Setelah lulus sekolah dasar, saya sudah tidak mendapat kabar tentang keadaannya sekarang. Saya berharap dia tumbuh menjadi pria sejati dan tetap semangat menjalani kerasnya hidup dan mengambil sisi positif dari tiap masalah yang dihadapinya. Semoga cerita tentang kehidupan teman saya sewaktu di sekolah dasar dapat menjadi inspirasi untuk teman-teman semua yang membacanya. Wassalammuallaikum Wr. Wb.

Nama   : Hidayati

NRP    : B04100080

Laskar : 23

Cerita inspirasi diri sendiri

Assalammuallaikum Wr. Wb. Tinggal bersama kedua orang tua yang masih ada dan satu orang kakak perempuan merupakan suatu hal yang sangat membahagiakan. Apalagi Bapak saya dokter, mungkin banyak orang yang iri dan ingin mempunyai keluarga seperti saya. Namun, walaupun begitu pasti tetap ada segelintir atau mungkin banyak masalah yang melanda. Dengan adanya masalah-masalah tersebut, terkadang membuat saya sakit hati dan merasa orang paling terpuruk sedunia. Saya tahu itu mungkin terasa berlebihan tapi untuk saat itu saat di mana saya masih kecil, remaja, dan hampir menuju dewasa merupakan masa yang sangat labil baik hati maupun pikiran saya.

Untuk memulainya saya akan menceritakan contoh masalah yang membuat batin saya tertekan. Pada saat saya berumur 5 tahun, saya sudah terbiasa dengan pertengkaran rumah tangga. Baik itu antara bapak dan ibu saya, ibu dan kakak saya, atau bapak dan kakak saya. Orang tua saya bertengkar karena masalah rumah tangga sedangkan kakak saya bertengkar dengan kedua orang tua saya karena masalah remaja seusianya. Karena perbedaan umur kami 7 tahun jadi saat  itu kakak saya sedang beranjak remaja. Dan kakak saya lebih keras kepala daripada saya dan lebih mudah meluapkan emosi kepada siapa saja termasuk orang tua. Maka, ketika terjadi perbedaan sudut pandang antara kakak saya dengan orang tua, mereka langsung bertengkar.  Dan pada saat itu saya hanya terdiam di bawah tempat tidur ketakutan dan menangis, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Setiap hari selalu saja seperti itu. Sampai ketika saya kelas 3 SD, saya mau kabur dari rumah karena tidak tahan. Bayangkan, untuk anak seusia saya sangat mengherankan jika ada keinginan untuk kabur dari rumah. Dari mana saya mencontoh itu? Tentu saja dari kakak dan orang tua saya. Tiap kali mereka bertengkar selalu diakhiri dengan kabur dari rumah. Tapi pada akhirnya saya tidak jadi kabur dari rumah karena saya bingung mau ke mana jadi saya hanya diam di tempat sampah depan rumah dan kembali lagi ke dalam rumah karena lapar.

Seiring dengan bertambahnya usia saya maka pola pikir saya juga semakin dewasa. Saya mencoba untuk melihat semuanya dari sudut pandang yang berbeda dan selalu mengambil hal yang positif dari setiap masalah yang ada. Saya menyadari bahwa pendewasaan yang saya alami ini tak lain karena pengalaman hidup saya dari kecil yang terbiasa melihat pertengkaran dan masalah keluarga lainnya. Pada awalnya saya merasa sedih mempunyai keluarga seperti ini. Saya sering bertanya dalam hati, mengapa terlahir di keluarga yang bahagia di luarnya saja? Padahal tanpa orang lain ketahui saya merasa tertekan. Alhamdulillah, sekarang saya merasa bersyukur mempunyai keluarga seperti ini. Keluarga yang dapat membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih dewasa dari teman-teman dekat saya. Di keluarga ini saya belajar bahwa setiap perbedaan tidak perlu ada pertengkaran dan berakhir dengan kabur yang berarti itu lari dari masalah yang ada. Jika ada perbedaan maka selesaikan secara baik-baik dengan kepala dingin dan jika ada masalah hadapi saja walaupun masalahnya begitu berat untuk kita. Karena pertengkaran hanya merugikan diri sendiri dan orang lain dan bisa memutuskan tali silaturrahmi. Dan apabila kita sedang emosi, jangan membiarkan emosi itu keluar mengikuti hawa nafsu. Kita harus bisa mengendalikan hawa nafsu jangan biarkan hawa nafsu mengendalikan kita. Bila sedang emosi lebih baik diam. Seperti kata orang bijak apabila kita marah dalam keadaan berdiri maka duduk, dan apabila kita masih emosi juga maka tidurlah. Jangan lemah, tetap semangat karena itu kunci keberhasilan. Sekian cerita dari saya semoga sedikit pengalaman hidup saya bisa menjadi inspirasi dan membuat perubahan yang banyak untuk teman-teman semua. Terima kasih, Wassalammualaikum Wr. Wb.